oleh

PJJ PAI UIN Siber Cirebon Raih “Baik Sekali”, Ujian Mutu Pendidikan Islam Berbasis Digital

-Pendidikan-17 Dilihat

CIREBON | Berita Suara| – Transformasi pendidikan tinggi berbasis digital kembali menunjukkan legitimasi kualitasnya. Program Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon resmi meraih akreditasi peringkat “Baik Sekali” dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK).

Capaian tersebut tertuang dalam SK LAMDIK Nomor 314/SK/LAMDIK/Ak/S/II/2026 tertanggal 28 Februari 2026 dan berlaku hingga 27 Februari 2031. Secara substantif, hasil ini menegaskan bahwa model pembelajaran jarak jauh berbasis siber yang dikembangkan kampus tersebut telah memenuhi standar nasional mutu pendidikan tinggi, baik dari sisi tata kelola, akademik, hingga sistem penjaminan mutu.

Proses asesmen lapangan perdana berlangsung pada 20–21 Januari 2026 secara hybrid, terpusat di Gedung Siber SBSN lantai 8 dan 4. Dua asesor nasional LAMDIK, yakni Evi Fatimatur Rusydiyah dari UIN Sunan Ampel Surabaya serta Fihris dari UIN Walisongo Semarang, melakukan verifikasi menyeluruh terhadap kesiapan akademik dan kelembagaan.

Penilaian tidak berhenti pada kelengkapan dokumen. Asesor menggali implementasi nyata melalui wawancara pimpinan universitas, pengelola program studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, hingga para pemangku kepentingan. Fokus utama diarahkan pada efektivitas tata kelola, sistem pembelajaran digital, luaran tridarma perguruan tinggi, serta konsistensi pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).

Pendekatan ini menjadi krusial, mengingat pendidikan jarak jauh kerap dipertanyakan dari sisi kualitas interaksi akademik, kontrol pembelajaran, dan keterjaminan capaian kompetensi lulusan.

Dekan FITK, Saifuddin, menyebut capaian tersebut sebagai buah komitmen kolektif sivitas akademika dalam menjaga mutu pendidikan berbasis digital. Kepala UPT PJJ, Muslihuddin, menilai akreditasi ini menjadi pijakan strategis untuk memperkuat inovasi dan standar layanan pembelajaran daring.

Sementara itu, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Ria Yulia Gloria, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut lahir dari implementasi penjaminan mutu internal yang berjalan konsisten dan berkelanjutan. Ia mengingatkan, akreditasi tidak boleh berhenti sebagai capaian administratif, melainkan harus menjadi pemicu continuous quality improvement.

Pernyataan ini penting. Dalam konteks pendidikan tinggi, akreditasi bukan hanya label reputasi, tetapi juga instrumen akuntabilitas publik. Terlebih bagi program berbasis siber, tantangan pengawasan kualitas lebih kompleks dibanding pembelajaran tatap muka konvensional.

Di tengah percepatan transformasi digital dan meningkatnya kebutuhan fleksibilitas belajar, keberhasilan Prodi PJJ PAI FITK memperkuat posisi UIN Siber sebagai salah satu pelopor pendidikan tinggi berbasis siber di wilayah Ciayumajakuning.

Model pendidikan agama Islam jarak jauh kini memasuki fase pembuktian. Jika sebelumnya pendekatan daring lebih identik dengan keterpaksaan akibat pandemi, kini ia menjadi desain sistemik yang dirancang matang dengan dukungan infrastruktur, Learning Management System (LMS), serta standar evaluasi berbasis teknologi.

Akreditasi “Baik Sekali” menjadi sinyal bahwa pendidikan agama Islam tidak tertinggal dalam arus digitalisasi. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi mutu, meningkatkan daya saing lulusan, serta memastikan bahwa transformasi digital tetap berpijak pada nilai akademik dan integritas ilmiah.

Bagi publik, capaian ini menjadi indikator bahwa pendidikan tinggi keagamaan berbasis siber bukan eksperimen sementara, melainkan model yang telah teruji secara standar nasional.(Donny Wardhana)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *